Friday, 23 September 2011

LENTERA JIWA

just want to share my task about lentera jiwa. check it out.


-LENTERA JIWA-

Bernadeth Brenda

Sejak kecil, sebenarnya saya bercita-cita menjadi seorang dokter anak. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya mengambil jurusan IPS di SMA saya MaterDei. Jujur saja saya tidak menyukai pelajaran yang tentang berhitung, sepeti matematika, kimia dan fisika sehingga saya lebih memilih untuk jurusan IPS. Bukannya tidak mau berusaha agar bisa, namun saya lebih memilih apa yang sudah saya kuasai untuk lebih didalami. Saya juga tau bahwa di jurusan IPS saya bisa lebih berprestasi dibanding jika saya masuk jurusan IPA. Sekali lagi, bukannya tidak mau ataupun takut bersaing dengan anak yang lebih pandai, namun saya tau dimana kekurangan dan kelebihan serta kualitas yang saya miliki. Saya lebih mudah untuk menghafal dibanding menggunakan rumus-rumus hitungan. Hal ini membuat impian saya menjadi dokter tidak akan tercapai.

Saya membuktikan diri saya ketika masuk di IPS. Saya bisa mendapat pararel 5 ketika semester pertama dan saya sangat senang dan bangga. Saya ingin membuktikan kepada kedua orangtua saya bahwa saya juga bisa seperti kakak saya. Sebelumnya, saya ingin menceritakan bahwa saya sangat termotivasi oleh kakak saya. Dia, lebih pandai dan bisa dibilang lebih beruntung dari saya. Ketika SMP, dia lulus dengan NEM tertinggi se-Tangerang. Saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa seperti dia, namun saya gagal. Walaupun NEM saya masih rata-rata 8, saya cukup kecewa dengan hasil ini. Mengapa? Karena pada saat itu saya ingin sekali mendaftar disekolah negeri Jakarta yang sangat tinggi nilai rata-rata siswa yang masuk kesana. Kakak saya dengan mudah masuk di SMA 70 bahkan dengan nilai tertinggi yang sampai akhir tidak tergeser oleh siswa darimanapun. Kembali hal ini saya jadikan motivasi agar bisa sebaik dia. Tapi, dengan NEM yang saya miliki nampaknya tidak memungkinkan untuk saya diterima disekolah itu. Kakak saya siswa IPA akselerasi sedangkan saya siswa IPS. Kadang membuat saya merasa menjadi orang yang sangat bodoh. Dibalik itu, saya berjuang untuk mendapat nilai yang baik di jurusan IPS.

Sekarang, saya duduk dikelas 12 dan akan segera menjalani ujian. Telah terpikir bahwa saya akan mengambil jurusan psikologi di universitas yang sangat saya idamkan, Pelita Harapan. Saya ingin masuk kesana, karena kakak saya juga. Mungkin terlihat bodoh bahwa seorang adik selalu mengikuti jejak kakanya dan tidak pernah berhasil, seperti tidak punya tujuan hidup sendiri hanya bisa mengikuti jejak orang lain. Saya hanya mengambil positifnya bahwa saya ingin berusaha sebaik dia. Saya tidak ingin dibedakan karena kemampuan kami yang berbeda, walaupun memang kedua orangtua saya tidak pernah melakukan hal itu. Saya mengikuti jalur beasiswa di UPH, sama seperti yang dilakukan kakak saya beberapa tahun yang lalu. Kembali lagi saya harus gagal. Saya benar-benar kecewa dengan hasil tersebut bahkan sampai menangis. Saya merasa saya harus menjadi psikolog karena itu lentera jiwa saya ‘untuk saat ini’. Entah, saya harus tetap berusaha untuk menjadi apa yang saya inginkan. Tidak diterima di UPH bukan berarti saya tidak bisa menjadi psikolog. Masih banyak tempat lain yang memungkinkan saya untuk belajar lebih baik.

Saya ingin sekali menjadi psikolog dan memiliki alasan tersendiri. Pada saat ini, bayangan saya tentu saja psikolog adalah orang yang membantu sesamanya menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Saya senang mendengarkan cerita teman dan membantu memberi solusi. Pada saatnya mungkin bukan ini pekerjaan saya. Namun, hal itu saya jadikan pedoman. Saya senang membantu menyelesaikan masalah orang-orang yang membutuhkan. Saya sangat menghargai profesi sebagai guru BP yang sangat membantu siswa dalam belajar dan mengatasi berbagai masalah disekolah. Dia bisa mendengar cerita kita dengan baik dan memberikan solusi kepada kita.

Mendengar seminar dengan pembicara Andy F. Noya beberapa hari yang lalu membuat pikiran saya terbuka bahwa membantu sesama itu sangat menyenangkan. Saya tertarik dengan pekerjaan yang dilakukan Om Andy. Dia memiliki banyak sekali kenalan dan dapat membantu sesama dengan caranya sendiri. Saya ingin menjadi seperti dia. Rasanya bangga dan senang sekali bisa membantu sesama yang membutuhkan. Tapi tentu saja banyak kendala yang saya hadapi untuk mendapatkan itu semua. Dari awal cerita saya telah menceritakan kendala yang saya hadapi. Belum mendapat beasiswa dan belum berhasil membuat bangga kedua orangtua saya seperti kakak saya. Namun, saya yakin dan percaya bahwa lentera jiwa saya akan menuntun saya ke jalan yang benar. Membawa saya kepada apa yang saya minati dan sukai apalagi jika kita memiliki niat yang baik, pasti Tuhan melihat setiap usaha yang kita lakukan. So, wherever i will take my next study, i just want to be better than now. I will get better score, get a scholarship, make my parents proud, and glorify God’s name. Where there is a will, there is a way and i believe that God will make a way where there seems to be no way. Just believe.